Banyak buku dan kisah tentang Sutan Sjahrir yang ditulis orang,
terutama yang mengulas pandangan politik dan strategi perjuangan beliau
untuk mencapai Indonesia merdeka. salah satunya adalah Sjahrir Pahlawan Nasional, karya Leon Salim, terbitan Masa Depan, Medan, 1966.
ketika berusia 20 tahun, Sjahrir sudah memimpin PNI yang besar
pengaruh politiknya waktu itu. setahun kemudian, sekitar tahun 1932,
pimpinan organisasi itu diserahkan kembali kepada Mohammad Hatta yang
telah menyelesaikan pendidikannya. menurut Sjahrir, gerakan kemerdekaan
ketika itu hanya digerakkan dengan aksi massa. tetapi sayangnya, mereka
kurang memberikan kesadaran politik kepada rakyat. hal seperti ini
jelas tidak menguntungkan, karena jika pimpinan pergerakan ditangkap
atau diasingkan, pergerakan menjadi berantakan. Sjahrir cenderung
meyakini, pembentukan kader pejuang yang cakap, sadar dan tahan uji
tidak semata-mata bergantung kepada para pemimpin. pembentukan aksi
massa yang berapi-api itu harus sejajar dengan kesadaran politik rakyat.
pada
tahun 1934, terjadi pembersihan terhadap berbagai organisasi partai
politik, termasuk PNI. Setahun kemudian, Sjahrir dan Mohammad Hatta
diasingkan ke tempat terpencil di Boven Digul, bagian Hindia Belanda
paling timur (sekarang Irian Jaya).
dalam pengasingan
di Digul, Sutan Sjahrir menulis dalam Renungan, walaupun ia sering
dituduh kebarat-baratan serta tidak dimengerti oleh bangsanya sendiri,
namun tujuan hidupnya sama dengan saudara-saudaranya sebangsa dan
setanah air. Kesedihan dan penderitaannya di pembuangan, menurut
Sjahrir, kecil sekali kesedihannya bila dibandingkan dengan kesedihan dan penderitaan
berjuta-juta rakyat Indonesia. kesedihan itulah yang mempererat dan
mengangkat batinnya.
setahun kemudian, kedua tahanan
politik itu dipindahkan ke Kepulauan Banda (Maluku) sampai tahun 1941.
sebagai pelipur kesepiannya, Sutan Sjahrir mengangkat beberapa anak
dari satu keluarga di Banda Neira. anak-anak itu menjadi
teman-temannya. ia sering mengajak anak-anaknya berjalan-jalan, naik
perahu, berolahraga, bahkan menjahit pakaian dan memandikan mereka.
suasana kekeluargaan ini dinikmatinya benar, lain dari suasana politik,
salah seorang anak angkat Sutan Sjahrir, Des Alwi mencatat kenangan
masa kecil bersama Sutan Sjahrir dalam buku hariannya yang kemudian
dituliskannya dalam bentuk buku. Des Alwi, yang sekarang dikenal
sebagai penulis dan pengusaha. dalam buku tersebut dilukiskan watak
Sjahrir yang penuh humor, pandai bergaul dengan anak-anak dan selalu
optimis dalam segala hal. menjelang masuknya tentara Jepang ke
Indonesia, Sutan Sjahrir dipindahkan ke Sukabumi (Jawa Barat). semua anak-anak
angkatnya dibawa serta.
pada bulan November 1945,
tentara sekutu yang diboncengi Belanda datang ke Indonesia dengan
tujuan hendak melucuti tentara Jepang yang kalah perang melawan Sekutu.
waktu itu Sutan Sjahrir memimpin kabinet yang baru dibentuk yang beranggotakan delapan orang menteri. mereka adalah tokoh-tokoh yang
bersih dari kerjasama dengan Jepang.
tiba-tiba
sekutu melancarkan fitnah, bahwa Indonesia adalah negara "boneka" yang
diciptakan oleh Jepang. untuk membuktikan bahwa Indonesia bukan negara
boneka, maka senjata tentara Jepang dibebaskan. kerja sukses ini
dilakukan oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sehingga Sekutu tidak
punya alasan lagi untuk menyusup lebih dalam ke wilayah Indonesia yang
baru saja merdeka.
ketika situasi politik di Indonesia telah berubah dan presiden
Soekarno telah begitu berkuasa dan Sutan Sjahrir sudah menjadi tahanan
politik yang hanya boleh dijenguk oleh keluarga terdekat. pada bulan
April tahun 1966 hanya tubuhnya yang pulang ke tanah air dari upaya
pengobatannya di Swiss.
Beberapa peristiwa tentang keberanian, ketenangan dan rasa humor Sutan Sjahrir.
Perbedaan
politik dan kebijaksanaan negara yang baru merdeka, sering menimbulkan
gejolak. pada tahun 1946, sekolompok orang yang berbeda pandangan
politiknya dengan Sutan Sjahrir menculiknya di Solo. teman-temannya
tentu saja gelisah memikirkan keselamatannya. waktu itu budaya main
hakim sendiri atau langsung tembak mati bisa dilakukan. ternyata Sutan
Sjahrir tenang-tenang saja, bahkan mengajak penyanderanya bermainan
ayunan di bawah pohon. tidak lupa ia mengucapkan terima kasih kepada
penculiknya karena telah memberinya "hari libur."
selain
humoris, ia juga sosok yang memiliki kepribadian yang tenang, tidak
pernah bingung atau kehilangan akal. saat itu, Surabaya tengah diserang
tentara Sekutu. ketika Sjahrir sedang memimpin rapat di Solo, tiba-tiba
listrik padam. sementara itu, di luar gedung terdengar suara tembakan. peserta rapat yang sudah duduk, kucar-kacir lari mencari perlindungan. tidak beberapa lama kemudian, listrik kembali menyala. ternyata, tida
ada kejadian apa-apa. para peserta rapat kembali duduk ke tempat
duduknya masing-masing. hanya Sjahrir yang tidak lari, dia duduk dengan
tenang. hal ini sempat membuat peserta rapat terheran-heran.
pada
waktu Belanda menyerang Yogjakarta di akhir tahun 1948, bom-bom
berjatuhan di Benteng Vredesburg, di depan kediaman resmi Presiden
Soekarno. orang-orang panik berlarian mencari perlindungan, Sjahrir
malah masuk ke rumah makan dan dengan tenang manyantap makanan yang
dihidangkan. kisah ini dituturkan dalam buku Manusia Dalam Kemelut
Sejarah, LP3ES, Jakarta, 1983.
pada awal tahun 1947,
Sutan Sjahrir menghadiri Inter Relation Asian Confrence di New Delhi,
yang kemudian menjadi tolak ukur politik luar negeri Indonesia yang
bebas dan aktif. pada perundingan Linggar Jati dengan Belanda, Sjahrir
memaksa Belanda untuk mengakui kekuasaan de facto Republik Indonesia di
Jawa dan Madura.
sesudah serangan militer Belanda
pertama, Sjahrir menembus blokade Belanda untuk pergi ke Lake Success,
berhadapan dengan Dewan Keamanan PBB (di kota New York), untuk mewakili Indonesia. sampai
pertengahan tahun 1974, selama lima tahun ia telah memimpin tiga kali
pergantian kabinet. Negara Indonesia saat itu sedang mengalami Revolusi
Fisik, suatu masa yang sangat sulit bagi negara baru. Sjahrir lalu
diangkat menjadi penasihat istimewa Presiden.
ketika
terjadi serangan militer Belanda kedua pada bulan Desember 1948,
Sjahrir bersama Presiden Soekarno dan Haji Agus Salim ditangkap Belanda
dan diasingkan ke Brastagi, lalu ke Prapat di Sumatera Utara.
setelah
pengakuan kedaulatan Negara Republik Indonesia oleh Belanda, pada bulan
Desember 1949, Sutan Sjahrir tidak lagi memegang jabatan kenegaraan. ia
kembali aktif dalam bidang politik dengan memimpin Partai Sosialis
Indonesia (PSI). Sjahrir menginginkan agar PSI menjadi partai yang
konsekuen memperjuangkan kesejahteraan rakyat Indonesia yang tujuan
perjuangannya bukan untuk kepentingan golongan atau nama besar.
dengan
wataknya yang keras, ditambah lagi dengan kepribadiannya yang mantap,
ia selalu menghindari emosi massa atau agitasi murahan. ia selalu
melancarkan gerakan kesadaran berpolitik dengan mengacu kepada sosial
pendidikan. tetapi agaknya Sjahrir lupa, bahwa bangsanya saat itu sudah
terbiasa hidup santai dan manja. mereka lebih terpesona dengan panggung
hiburan daripada pabrik dan industri. rakyat yang kesadaran politiknya
masih rendah dengan mudah dipengaruhi dan diombang-ambingkan oleh
berbagai kelompok yang saling berebut pengaruh.
Partai
Sosialis Indonesia yang dipimpin oleh Sutan Sjahrir menjadi tempat
mendidik kader-kader politik. dalam pemilihan umum tahun 1955, PSI
hanya mendapat lima kursi di Dewan Pertimbangan Rakyat (DPR). pada masa
itu, tingkat kehidupan di Indonesia pada umumnya merosot dalam segala
hal. perekonomian hancur, inflasi membubung tinggi, kerusakan moral dan
korupsi merajalela disegala bidang kehidupan. disamping itu bentrokan
kepentingan antargolongan atau antarkelompok politik semakin
mempertegang situasi. keadaan yang tidak menentu ini lebih dipertajam
lagi dengan timbulnya pertentangan antar daerah (berbagai propinsi di
Sumatera Utara dan Sulawesi Utara) yang mempertanyakan pembagian
belanja negara yang dinilai oleh mereka tidak adil. Sutan Sjahrir
mengirimkan utusannya ke daerah-daerah, walaupun sebenarnya ia tidak
lagi berada dalam pemerintahan, dengan mengajak para pemimpin daerah
untuk bermusyawarah - mencari jalan damai.
rupanya
keadaan sudah begitu buruk, sehingga akhirnya meletus pemberontakan
yang disebut sebagai peristiwa PRRI / Permesta (Pemerintahan
Revolusioner Republik Indonesia) / Pemerintahan Rakyat Semesta). sebagai salah seorang pejuang kemerdekaan, hancur lah hati Sutan
Sjahrir, karena “hasil karyanya” dicabik-cabik perang saudara. apalagi
setelah perlemen hasil Pemilihan Umum 1955 dibubarkan oleh Soekarno, dan
dimulailah pemerintahan dengan dekrit-dekrit. sebagai puncaknya, Partai
Sosialis Indonesia dibubarkan.
pada pertengahan tahun 1962, Sjahrir
ditangkap dan diasingkan. ia didakwa terlibat dalam pemberontakan
daerah dan percobaan pembunuhan terhadap presiden di Makasar (Ujung
Pandang), pada tahun 1961. berbeda pada masa penahanannya dulu di
Cipinang, Digul, Kepulauan Banda dan Sukabumi, kini usia Sjahrir sudah jauh lebih
tua. fisiknya mulai lemah. ketika ia dibuang ke Digul pada masa
pemerintah kolonial, ia dapat dengan ikhlas menerimanya, karena Sjahrir
menyadari, pembuangan itu untuk memperjuangkan nasib bangsanya. tetapi
kini, setelah Indonesia merdeka, tuduhan terhadap dirinya sangat
dibuat-buat dan yang lebih menyakitkan, ia dibuang oleh bangsanya
sendiri, oleh teman seperjuangannya.
menjelang kematiannya, setelah mengorbankan segalanya demi kemerdekaan bangsanya, Sutan
Sjahrir justru disingkirkan. ia bahkan dipenjarakan dengan
tuduhan berkomplot hendak melakukan kejahatan. di penjara ia mengalami
beberapa kali sroke sampai tidak mampu bicara. Sutan sjahrir mulai
sakit-sakitan. jiwanya memendam perasaan kecewa yang mendalam. ia hanya
bisa diam dan menahan diri, seakan-akan tidak terusik perasaan
bersalahnya menyaksikan perkosaan terhadap Undang-Undang Dasar 1945.
cita-cita Sjahrir bukannya semakin dekat kepada kenyataan, justru
sebaliknya.
Sutan Sjahrir
menderita tekanan darah tinggi karena tidak mendapat perawatan yang
semestinya. penyakitnya semakin sering kambuh sampai akhirnya mengalami
stroke. atas permintaan keluarga, Sutan Sjahrir diijinkan berobat ke
Swiss. tetapi penyakit yang dideritanya sudah sedemikian parah sehingga
beliau tidak dapat tertolong lagi. ia meninggal pada tahun 1966,
jasadnya dibawa kembali untuk dikebumikan di Indonesia.
tidak
ada permintaan maaf dari Pemerintah Indonesia, tetapi sebagai gantinya,
keluarga Sutan Sjahrir menerima Surat Keputusan, bahwa Sutan Sjahrir
diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Sjahrir meninggalkan seorang istri, Ny.
Wahyunah Sjahrir, SH. dua orang anak, Ir. Kriya Arsyah dan Dra. Siti
Rabi’ah Parwati, serta beberapa orang anak angkat.
<< kembali ke Sutan Sjahrir -
Pahit Getir Perjuangan Sutan Sjahrir